Minggu, 26 Agustus 2012

Berpegang Dengan Kebenaran


BERPEGANG DENGAN KEBENARAN,
TANPA MENGKOMPROMIKANNYA DENGAN PERKATAAN MANUSIA
Allâh Ta'ala berfiman,
(Qs. Ash-Shaf/61: 9)
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar
agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama,
meskipun orang-orang musyrik benci.

(Qs Ash Shaf/61:9)

Dalam ayat ini, Allâh Ta'ala memberikan nikmat kepada semua manusia dengan mengutus Rasul dan Nabi terbaik kepada mereka dengan membawa sebaik-baik kitab dan risalah-Nya; yang mencakup penjelasan antara yang haq dan bathil, ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan semua yang dibutuhkan oleh hamba demi kemaslahatannya di dunia dan akhirat, agar Allâh Ta'ala meninggikan di atas semua agama dengan hujjah (argumen) dan penjelasan, dan agar Allâh Ta'ala memenangkan orang-orang yang teguh melaksanakannya dengan pedang dan panah.
Allâh Ta'ala memerintahkan kepada kaum mukminin agar berpegang teguh dengan agama yang benar dan manhaj yang jelas ini, dalam semua urusan mereka, supaya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allâh Ta'ala memperingatkan kepada mereka agar tidak berpaling atau berpegang dengan agama yang lain.

Allâh Ta'ala berfirman:
(Qs. Al-A’raf/7:3)
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu
dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.
Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya).

(QS Al A’raf/7 :3)

Para ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud (dengan kata mâ, Red) adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah; karena ia sebagai penjelas dan tafsir bagi Al-Qur’an.
Firman Allâh Ta'ala :
(Qs.  Al-A’raf/7:3)
dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya

Maksudnya ialah janganlah kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin dan mengikuti hawa nafsu mereka dan meninggalkan al-haq karenanya.
Banyak dalil-dalil syara’, atsar dari para sahabat, para tabi’in dan para imam kaum muslimin yang memotivasi agar berpegang teguh dengan wahyu dan petunjuk yang dibawa Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tanpa membantahnya dengan perkataan manusia, meskipun orang itu memiliki derajat dan kedudukan tinggi. Apalagi sampai mendahulukan perkataan dan pendapat mereka daripada firman Allâh Ta'ala dan sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.
Bagi setiap mukallaf, wajib untuk mengikuti kebenaran apabila jelas baginya tanpa tergantung kepada seseorang dalam menerima kebenaran. Banyak nash-nash (teks-teks) yang menunjukkan, bahwa jalan keselamatan bisa dicapai dengan berpegang kepada kebenaran, bukan kepada pribadi-pribadi (tertentu, Red). Berdasarkan dengan kebenaran, perkataan-perkataan dan pendapat-pendapat itu ditimbang, sehingga menjadi jelas benar atau salahnya suatu perkataan dan pendapat.
Adapun bergantung kepada orang-orang tertentu, mengikuti perkataan, pendapat dan ijtihad mereka kemudian langsung menerimanya tanpa melihat kesesuaiannya dengan kebenaran yang dibawa Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dari Allâh Ta'ala, maka demikian ini merupakan cara yang berbahaya dan bertentangan dengan petunjuk Salafush Shalih.
Dikatakan oleh Imam Syatibi rahimahullâh,
”Menjadikan seseorang sebagai hakim, tanpa memandang keberadaannya sebagai perantara hukum syar’i yang dituntut secara syar’i, sesungguhnya merupakan kesesatan. Dan hujjah penentu dan hakim tertinggi adalah syari’at, bukan yang lainnya. Kemudian kami katakan, demikianlah manhaj para sahabat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, dan siapa saja yang membaca sejarah dan nukilan-nukilan dari mereka serta mempelajari keadaan mereka, pasti akan mengetahui hal ini dengan ilmu yang yakin.”
Beliau rahimahullâh juga berkata,
”Sungguh, kebanyakan orang tersesat akibat berpaling dari dalil-dalil dan (kemudian) bergantung kepada manusia. Mereka keluar dari (pemahaman, Pent) para sahabat dan tabi’in. Mereka memperturutkan hawa nafsu dengan tanpa ilmu, sehingga keluar dari jalan yang lurus.”
Beliau rahimahullâh juga mengatakan, bahwa mengekor kepada pribadi-pribadi merupakan ciri orang sesat.

DALIL-DALIL WAJIBNYA BERPEGANG KEPADA KEBENARAN
Di bawah ini, terdapat beberapa dalil syari’i dan atsar-atsar tentang kewajiban berpegang teguh kepada kebenaran dan mengenyampingkan ketergantungan kepada pribadi-pribadi tertentu. Allâh Ta'ala berfirman,
(Qs. Al Hujurat/49:1).
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allâh dan Rasul-Nya.
Dan bertaqwalah kepada Allâh.
Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(Qs Al-Hujurat/49:1)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullâh berkata,
”Ayat ini memuat adab kepada Allâh, Rasul-Nya, mengagungkan, menghormati serta memuliakan-Nya. Allâh memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang menjadi konsekwensi keimanan mereka kepada Allâh dan Rasul-Nya. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allâh dan menjauhi larangan-Nya. Dan hendaknya mereka berjalan mengikuti perintah Allâh , mengikuti Sunnah Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam semua urusan, tidak mendahului Allâh dan Rasul-Nya; tidak mengatakan sesuatu, sehingga Allâh mengatakannya. Mereka tidak memerintahkan, sehingga Allâh memerintahkannya."
Disini juga terdapat larangan yang keras mendahulukan perkataan selain Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam daripada sabdanya. Apabila Sunnah Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam telah jelas, maka wajib mengikuti dan mendahulukannya daripada perkataan yang lainnya, siapapun juga.
Allâh Ta'ala berfirman,
(Qs. Ali Imran/3:144)
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.
Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad).
Barangsiapa yang berbalik ke belakang,
maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allâh sedikitpun;
dan Allâh akan memberi balasan kepada orangorang yang bersyukur.

(Qs Ali Imran/3:144)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullâh mengatakan :
“Dalam ayat yang mulia ini terdapat petunjuk dari Allâh untuk para hamba agar kokoh dalam satu kondisi, tidak goyah keimanannya atau sebagian konsekwensi keimanannya akibat kevakuman pemimpin, walaupun itu sulit. Demikian ini tidak dapat direalisir, kecuali dengan mempersiapkan semua urusan agama dengan sejumlah orang yang memiliki kemampuan. Apabila hilang salah satunya, maka ada orang lain yang menggantikan. Dan hendaknya semua kaum mukmin memiliki tujuan menegakkan agama Allâh dan berjihad semampunya. Dan hendaknya mereka tidak memiliki tendensi pemimpin tertentu, dengan demikian semua urusan mereka menjadi stabil”.
Hadits Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
hadist
hadist
Umar bin Khathab radhiyallâhu'anhu (datang) kepada Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam
sambil membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab.
Kemudian Nabi dibacakan kitab tersebut.
Nabi marah dan bersabda,
”Apakah engkau merasa bingung dengan apa yang ada di dalamnya, wahai putra Khathab?
Demi Dzat, yang jiwaku berada ditangan-Nya.
Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa sesuatu yang jelas.
Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang satu hal,
karena (mungkin, Red) mereka akan memberitahu kalian satu kebenaran,
akan tetapi kalian mendustakannya.
Atau mereka mengabarkan satu kebatilan, akan tetapi kalian percaya.
Demi Dzat, yang jiwaku berada di tangan-Nya.
Seandainya Musa masih hidup, maka wajib baginya untuk mengikutiku.

(HR Ahmad, Ibnu Abi Ashim, dan dinyatakan hasan oleh Al Albani)

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu'anhu, beliau berkata : Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda,
hadist
Janganlah kalian merasa heran dengan amalan seseorang,
sehingga kalian melihat amalan akhir hayatnya,
karena mungkin seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih,
yang seandainya ia mati, maka ia masuk surga.
Akan tetapi ia berubah dan mengamal perbuatan yang jelek.
Dan mungkin seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek,
yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka.
Akan tetapi ia berubah dan beramal dengan amalan shalih.
Maka apabila Allâh menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba,
Allâh akan menunjukinya sebelum ia meninggal
dan memberikan taufik kepadanya untuk beramal shalih.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah 1/174.
Syaikh Al Albani mengatakan,”Sanadnya shahih.”)

Juga dari beliau (Anas bin Malik radhiyallâhu'anhu), Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda,
hadist
Janganlah kalian merasa heran dengan seseorang
sampai kalian mengetahui dengan amal apa ia mengakhiri hidupnya.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim,
Syaikh Al Albani mengatakan,”Sanadnya shahih.”)

Juga dari beliau (Anas bin Malik radhiyallâhu'anhu), Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda,
hadist
Akan keluar atau akan ada pada kalian satu kaum
yang beribadah dan taat beragama,
sehingga kalian merasa takjub dengan mereka
dan mereka bangga dengan diri mereka.
Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim,
Syaikh Al Albani mengatakan,”Sanadnya shahih.”)

TIGA HAL YANG MENGHANCURKAN AGAMA
Dari Umar bin Khathab radhiyallâhu'anhu, beliau berkata bahwa Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda,
hadist
Tiga hal yang menghancurkan agama;
kesalahan seorang ‘alim,
perdebatan orang munafiq dengan menggunakan Al-Qur’an
dan para imam yang menyesatkan.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab Jami’ Bayan Ilmu Wa Fadlihi)

Dari Abu Darda’ radhiyallâhu'anhu, beliau berkata Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda,
hadist
Sesungguhnya diantara yang aku khawatirkan atas kalian,
adalah kesalahan orang yang ‘alim,
perdebatan orang munafiq dengan Al-Qur’an.
Sementara Al-Qur’an adalah sebuah kebenaran,
di atasnya ada cahaya seperti rambu-rambu bagi jalan.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab Jami’ Bayan Ilmu Wa Fadlihi)

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallâhu'anhu, dia mengatakan :
”Celakalah orang-orang yang mengekor karena kesalahan-kesalahan orang ‘alim.”
Beliau ditanya :
“Bagaimana itu bisa terjadi?”
Beliau berkata,
”Seorang ‘alim berkata tentang sesuatu berdasarkan pendapatnya, kemudian sang pengikut mendapatkan orang yang lebih tahu tentang Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dari imamnya, tapi ia meninggalkan perkataan orang yang lebih tahu tersebut, kemudian pengikut itu berlalu.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu'anhu berkata,
”Janganlah kalian mengambil seseorang sebagai tauladan, karena kadang seseorang beramal dengan amalan ahli surga, kemudian ia berbalik karena ilmu Allâh dan beramal dengan amalan ahli neraka, kemudian ia mati, sehingga menjadi ahli neraka. Dan kadang seseorang beramal dengan amalan ahli neraka, kemudian ia berbalik karena ilmu Allâh dan beramal dengan amalan ahli surga, kemudian ia mati, lalu ia menjadi ahli surga. Kalaupun engkau harus mengikuti seseorang, maka ikutilah orang-orang yang sudah mati bukan orang yang masih hidup.
(Al Jami’, Ibnu Abdil Barr)

TAULADAN TERBAIK
Ibnu Mas’ud radhiyallâhu'anhu berkata,
”Ingatlah. Jangan sekali-kali salah seorang diantara kalian bertaqlid kepada seseorang dalam masalah agama; jika panutannya beriman, ia ikut beriman; dan jika panutannya kufur, ia ikut kufur. Sesungguhnya tidak ada tauladan pada manusia”. (Al Jami’, Ibnu Abdil Barr)
Beliau radhiyallâhu'anhu juga berkata:
“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menjadikan seseorang sebagai panutan, maka jadikanlah orang yang sudah mati sebagai panutan. Karena yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka (yang sudah mati itu, Red) adalah para sahabat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Mereka adalah orang-orang yang paling utama (generasi terbaik) dari umat ini, hati mareka paling bertaqwa, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit menyusahkan diri. Allâh memilih mereka untuk menemani NabiNya, menegakkan agamaNya. Maka, fahamilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka. Sesungguhnya mereka berada diatas jalan yang lurus.”
Abdullah bin Mubarak rahimahullâh berkata,
”Bisa jadi seseorang yang memiliki kebaikan dan atsar yang baik dalam Islam, terjatuh kepada kekeliruan dan kesalahan, maka janganlah diikuti kesalahan serta kekeliruan orang tersebut.”
Imam Malik rahimahullâh berkata:
"Tidaklah setiap perkataan orang itu harus diikuti, walaupun ia memiliki keutamaan, berdasarkan Firman Allâh Ta'ala,
(Qs Az Zumar/39:18).
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.
(QS Az Zumar:18)
Az Zuhri rahimahullâh berkata:
"Para ulama kita terdahulu mengatakan,”Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan, dan ilmu akan dicabut dengan cepat. Hidupnya ilmu, berarti kekokohan agama dan dunia, sedangkan hilangnya ilmu, berarti kepunahan semua itu.”
Al Auza’i rahimahullâh mengatakan,
”Dikatakan, lima hal yang ditempuh oleh para sahabat Nabi dan para tabi’in; berpegang teguh dengan jama’ah, mengikuti Sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an dan berjihad dijalan Allâh.”
Mujahid rahimahullâh mengatakan,
’Tidak ada seorangpun perkataannya (boleh, Red) diambil dan ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.”
Ibnu Khuzaimah rahimahullâh berkata,
”Tidaklah ada seseorangpun yang boleh berkata, kecuali bila telah benar kabar dari Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam .”

BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH
Selayaknya bagi yang ingin mencari kebenaran dan mengikuti Sunnah agar mengikatkan dirinya dengan dasar yang agung dan jalan yang jelas ini. Yaitu berpegang teguh dengan Sunnah dan mengikuti pemahaman para salafush shalih, berupa pengagungan terhadap dalil-dalil dan tidak mempertentangkannya dengan perkataan siapapun, apalagi mendahulukan perkataan orang atas dalil tersebut. Dan hendaknya tidak tertipu dengan kebaikan seseorang ataupun dengan amalan seseorang. Karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang diikuti adalah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya radhiyallâhu'anhum, yang Allâh Ta'ala telah memberikan tazkiyah (pengakuan, Red.) kepada mereka.
Allâh Ta'ala telah berfirman di dalam kitab-Nya (A-Qur'an) dan Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam telah wafat. Allâh Ta'ala ridha atas mereka (para sahabat radhiyallâhu'anhum) dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik.
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam telah bersabda tentang mereka:
hadist
Sebaik-baik generasi adalah generasiku,
kemudian yang setelahnya,
kemudian yang setelahnya.

(Muttafaq ‘alaih)
Semoga bermanfaat.
Oleh: Doktor Walid Ar Rabi’ (diterjemahkan oleh Adi Abdul Jabbar dari Majalah Al Furqan edisi 254 dan 255)

Kesempurnaan Islam & Konsekuensinya

Kesempurnaan Islam & Konsekuensinya
(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari)

Di zaman ini, kita melihat berbagai perkara baru telah ditambahkan ke dalam agama Islam. Baik tambahan itu berupa keyakinan, amalan, prinsip dan kaidah, atau yang lainnya. Hal ini benar-benar merusak kesucian Islam dalam urusan agama. Padahal Allâh Ta'âla telah menyempurnakan agama Islam ini bagi hamba-hamba- Nya, dan ini termasuk nikmat Allâh Ta'âla terbesar. Maka selayaknya orang-orang Islam meridhai agama Islam ini, sebagaimana Allâh Ta'âla telah meridhainya. Demikian juga, seharusnya mereka merasa cukup dengan ajaran agama Islam ini, karena memang Allâh Ta'âla telah menyempurnakan nikmat-Nya.
Dalam rangka mengingatkan kesempurnaan agama Islam –yang telah kita diketahui bersama– dan mengingatkan konsekuensinya –yang mungkin banyak dilalaikan oleh sebagian orang–, ada 2 hal pokok yang perlu kita ketahui bersama:
1.
Termasuk prinsip agama yang wajib diyakini, iman seseorang tidak sah tanpa keyakinan ini, adalah bahwa agama Islam telah disempurnakan oleh Allâh Ta'âla .
Maka, tugas manusia adalah mempelajari, mendengar dan mentaati.
Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs al-Mâidah/5:3)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu
dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu,
dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu.

(Qs al-Mâidah/5:3)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata dalam tafsirnya:
“Ini merupakan nikmat Allâh Ta'âla terbesar kepada umat ini, yaitu Allâh Ta'âla menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama apapun selainnya, dan mereka tidak membutuhkan seorang Nabi-pun selain Nabi mereka. Oleh karena inilah Allâh Ta'âla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan (Allâh Ta'âla) mengutus beliau kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada yang halal kecuali apa yang beliau halalkan. Tidak ada yang haram kecuali apa yang beliau haramkan. Tidak ada agama kecuali apa yang beliau syari’atkan. Segala sesuatu yang beliau beritakan, maka hal itu haq dan benar (sesuai kenyataan), tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada kesalahan”. [1]
2.
Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam berkewajiban menyampaikan agama, dan beliau telah melakukannya dengan sebaik-baiknya.
Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam telah menyampaikan agama Islam dengan sempurna, tanpa dikurangi. Maka, tidaklah beliau wafat kecuali agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan.
Allâh Ta'âla telah menjadi saksi (surat al-Mâidah ayat 3) tentang hal ini, demikian juga orang-orang yang beriman. Dan cukuplah Allâh Ta'âla sebagai saksi.
Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda:
hadits
Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku
melainkan wajib baginya
untuk menunjukkan kebaikan yang dia ketahui kepada umatnya
dan memperingatkan keburukan yang dia ketahui kepada mereka.

(HR. Muslim no. 1844)
Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam juga bersabda:
hadits
Tidaklah aku meninggalkan sesuatu
dari apa yang Allâh perintahkan kepada kamu
kecuali aku telah memerintahkannya,
dan tidak pula aku meninggalkan sesuatu
dari apa yang Allâh Ta'âla larang kepada kamu
kecuali aku telah melarangnya.
[2]

Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam juga bersabda:
hadits
Tidaklah tersisa sesuatu pun
yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan telah dijelaskan kepada kamu.
[3]

Al-Irbâdh bin Sariyah radhiyallâhu'anhu berkata:
hadits
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kami
dengan nasehat yang menyentuh hati,
menjadikan mata bercucuran air mata
dan hati bergetar karenanya.
Kemudian kami bertanya:
”Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya ini
benar-benar nasehat orang yang berpamitan,
maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?”
Beliau bersabda:
“Aku telah meninggalkan kalian
di atas (agama) yang putih (terang, jelas);
malamnya seperti siangnya,
tidak ada seorang pun menyimpang darinya,
melainkan orang yang binasa.
Barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku,
dia akan melihat perselisihan yang banyak.
Maka, hendaklah kalian berpegang teguh
dengan sesuatu yang kalian ketahui dari Sunnahku
dan Sunnah para Khulafâur Râshidin yang mendapat petunjuk.
Gigitlah sunnah-sunnah tersebutdengan geraham-geraham kalian.
Hendaklah kalian taat
walaupun kepada budak Habsyi (yang menjadi pemimpinmu),
karena seorang Mukmin itu seperti onta yang penurut,
kemana ia di bawa, ia tunduk.”
[4]

KONSEKUENSI KESEMPURNAAN ISLAM
Setelah mengetahui dengan pasti kesempurnaan agama Islam ini, maka di antara konsekuensinya adalah bahwa kita tidak boleh menambahkan sesuatu pun yang baru dalam agama ini, sebagaimana kita juga tidak boleh menguranginya. Inilah yang dipahami oleh para Ulama semenjak dahulu. Sebagian dari perkataan mereka di antaranya:
1.Imam Mâlik bin Anas rahimahullâh berkata:
“Barangsiapa membuat bid’ah (perkara baru) di dalam Islam dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan, maka, sungguh dia telah menyangka bahwa Nabi Muhammad mengkhianati risalah (tugas menyampaikan agama) ini, karena Allâh telah berfirman:
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu."
(Qs al-Mâidah/5:3).
Oleh karena itu, segala sesuatu yang pada hari itu bukan dari agama, pada hari ini pun juga bukan dari agama”. [5]
2.Imam asy-Syâthibi rahimahullâh berkata:
“Sesungguhnya orang yang menganggap baik suatu bid’ah, secara umum memuat konsekuensi bahwa menurutnya syari’at itu belum sempurna, sehingga firman Allâh Ta'âla, ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”, tidak memiliki nilai makna menurut mereka”.[6]
Maka orang yang demikian adalah orang yang sesat dari jalan yang lurus.
3.Iman asy-Syaukâni rahimahullâh berkata:
“Jika Allâh Ta'âla telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mewafatkan Nabi-Nya, maka apakah perlunya pemikiran/pendapat baru, padahal Allâh Ta'âla telah menyempurnakan agama-Nya. Jika menurut keyakinan mereka pemikiran baru itu termasuk agama, maka agama ini menurut mereka belum sempurna; kecuali dengan pemikiran mereka. Yang berarti bahwa keyakinan mereka ini membantah al-Qur’ân. Jika itu bukan dari agama, maka apa gunanya menyibukkan diri dengan perkara yang tidak termasuk agama. Ini adalah argumen yang sangat kuat dan bukti yang agung. Orang yang membuat pemikiran baru tidak mungkin membantahnya dengan bantahan apapun selamanya. Maka jadikanlah ayat yang mulia ini (Qs al-Mâidah ayat 3) pertama kali untuk menampar wajah ahli ra’yi (pengagung akal), menghinakan mereka, dan menghancurkan hujjah mereka”.[7]
4.Syaikh Muhammad Sulthân Al-Ma’shûmi rahimahullâh berkata:
“Jalan-jalan agama dan ibadah-ibadah yang benar hanyalah yang telah dijelaskan oleh Sang Pencipta makhluk lewat lisan Rasul-Nya, Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam. Maka, barangsiapa menambah atau menguranginya berarti dia telah menyelisihi Allâh Ta'âla yang Maha Bijaksana, Maha Mencipta dan Maha Mengetahui, sebab dia meramu obat-obat bagi dirinya sendiri. Padahal, kemungkinan obat itu malah akan menjadi penyakit, dan ibadahnya menjadi maksiat tanpa dia sadari. Karena agama ini telah sempurna, maka barangsiapa menambah ajaran baru dalam agama, berarti dia menyangka bahwa agama ini kurang (sempurna), lalu dia menyempurnakannya dengan anggapan baik menurut akalnya yang rusak dan khayalnya yang tidak laku”.[8]

SIKAP SALAF TERHADAP PERKARA BARU DALAM AGAMA
Dari uraian di atas menjadi jelaslah bahwa ibadah itu harus mengikuti dalil dari al-Qur’ân atau Sunnah dengan pemahaman yang benar dari para Salaf. Oleh karena itu para Salafus Shalih mengingkari cara-cara ibadah yang tidak dituntunkan; atau perkara-perkara yang ditambahkan di dalam ibadah yang telah dituntunkan; walaupun manusia menganggapnya sebagai kebaikan. Karena memang ibadah itu akan diterima dengan dua syarat yaitu ikhlas dan ittibâ’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam ).
Tentang syarat ikhlas, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:
hadits
Sesungguhnya Allâh tidak akan menerima dari semua jenis amalan
kecuali yang murni untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya.
[9]

Tentang syarat ittibâ’ (mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam), beliau shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:
hadits
Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini,
sesuatu yang tidak ada contohnya, maka urusan itu tertolak.

(HR. Bukhâri no. 2697; Muslim no. 1718)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:
hadits
Barangsiapa melakukan suatu amalan
yang tidak ada padanya tuntunan kami,
maka amalan itu tertolak.

(HR. Muslim no. 1718)

Sebagian orang ketika melakukan ibadah bid’ah (ibadah baru yang tidak dituntunkan), lalu diingkari, dia segera menjawab: “Apa sih jeleknya berdzikir”, “Apa sih jeleknya berdoa”, “Apa sih jeleknya membaca al-Qur’ân”, dan semacamnya. Padahal yang diingkari itu bukan masalah berdzikir, berdoa, atau membaca al-Qur’ân. Tetapi yang diingkari adalah tata-cara ibadah mereka di dalam berdzikir, berdoa, atau membaca al-Qur’ân yang menyelisihi Sunnah Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam dan membuat tambahan di dalam agama yang sudah sempurna. Sehingga, ibadah mereka tidak memenuhi syarat ittibâ’, walaupun seandainya mereka ikhlas.
Karenanya, disini disampaikan beberapa sikap Salafus shalih tentang pengingkaran mereka terhadap berbagai tambahan dalam agama, walaupun mungkin di zaman sekarang orang menganggapnya sebagai suatu kebaikan. Namun, sebaik-baik generasi adalah para Sahabat, sehingga pemahaman para Sahabat itulah yang harus dijadikan rujukan di dalam beragama. Di antara riwayat tersebut adalah:
1.Kisah Abu Abdurrahmân Abdullâh bin Mas’ûd radhiyallâhu'anhu
Kisah terkenal tentang perbuatan Abdullâh bin Mas‘ûd radhiyallâhu'anhu yang mendatangi jama’ah dzikir yang berkelompok-kelompok memegang kerikil. Setiap kelompok dipimpin satu orang. Pemimpin itu memerintahkan: “Bertakbirlah 100 kali”, mereka pun melakukannya. Dia juga memerintahkan agar jama’ah bertahlil 100 kali dan bertasbih 100 kali, mereka juga melakukannya. Maka Abdullâh bin Mas’ûd radhiyallâhu'anhu berkata kepada mereka:
“Apakah ini –yang aku lihat kamu lakukan–?”
Mereka menjawab:
“Wahai Abu Abdurrahmân, ini kerikil. Kami menghitung takbir, tahlil, dan tasbih dengannya.”
Beliau berkata:
“Hitung saja keburukan-keburukan kamu! Aku menjamin kebaikan-kebaikan kamu tidak akan disia-siakan sedikit pun. Kasihan kamu, wahai umat Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam, alangkah cepatnya kebinasaan kalian! Ini, masih banyak para Sahabat Nabi kamu. Ini, pakaian beliau belum usang, dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allâh yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kamu berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam, atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan”.
Mereka berkata:
“Demi Allâh Ta'âla, wahai Abu Abdurrahmân, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan”.
Beliau menjawab:
“Alangkah banyak orang yang menghendaki kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya”. Sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu 'alaihi wasallam telah memberitakan kepada kami:
hadits
“Bahwa ada sekelompok orang yang membaca al-Qur’ân,
namun al-Qur’ân tidak melewati tenggorokan mereka”.

“Demi Allah, aku tidak tahu, kemungkinan mayoritas mereka itu adalah dari kamu”.
Kemudian Ibnu Mas`ud radhiyallâhu'anhu meninggalkan mereka. [10]

2.Kisah Abdullah bin ‘Umar radhiyallâhu'anhu

Nâfi’ Maula Ibnu ‘Umar radhiyallâhu'anhu bercerita:
hadits
Bahwa seorang laki-laki bersin di samping Ibnu ‘Umar
radhiyallâhu'anhu, lalu dia berkata:
“Alhamdulillâh wassalâmu ‘ala rasûlillâh”!
Ibnu ‘Umar radhiyallâhu'anhu berkata:
“Aku katakan, Alhamdulillâh wassalâmu ‘ala rasûlillâh,
bukan begini yang diajarkan
oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam.
Beliau telah mengajari kita untuk mengucapkan:
“Alhamdulillâh ‘ala kulli hâl”. [11]


3.Sa’îd bin Al-Musayyib rahimahullâh
Abu Rabah, seorang lelaki tua dari keluarga ‘Umar radhiyallâhu'anhu berkata:
hadits
Sa’îd bin Al-Musayyib melihat seorang laki-laki
melakukan shalat dua raka’at setelah Ashar;
dan dia sering melakukannya.
Maka beliau melarangnya.
Laki-laki itu berkata:
“Wahai Abu Muhammad,
apakah Allah akan menyiksaku karena shalat?”
Beliau menjawab:
“Tidak, tetapi Dia akan menyiksamu
karena menyelisihi Sunnah (tuntunan Nabi)”. [12]

Setelah membawakan riwayat ini, Syaikh al-Albâni rahimahullâh berkata:
“Ini termasuk jawaban-jawaban Sa’îd bin Al-Musayyib rahimahullâh yang mengagumkan. Merupakan senjata yang kuat untuk melawan para pelaku bid’ah, orang-orang yang menganggap baik banyak dari perkara-perkara bid’ah dengan sebutan bahwa itu adalah dzikir dan shalat!!
Kemudian mereka mengingkari ahlus sunnah yang telah mengingkari bid’ah mereka itu. Mereka menuduh Ahlus sunnah mengingkari dzikir dan shalat!! Sedangkan sebenarnya, Ahlus sunnah itu hanyalah mengingkari ahli bid’ah yang menyelisihi sunnah di dalam dzikir, shalat dan semacamnya”.[13]

4.Imam Mâlik bin Anas rahimahullâh
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullâh berkata:
“Imam Malik rahimahullâh didatangi seorang lelaki, lalu bertanya:
“Wahai Abu ‘Abdillâh, dari mana aku berihram?”
Beliau menjawab:
“Dari Dzul Hulaifah, tempat Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dahulu berihram”.
Lelaki tadi berkata:
“Aku ingin berihram dari masjid di dekat kubur”.
Imam Mâlik rahimahullâh berkata:
“Jangan engkau lakukan, aku khawatir musibah akan menimpamu”.
Dia menjawab:
“Musibah apa tentang ini?”
Imam Mâlik rahimahullâh berkata:
“Musibah mana yang lebih besar dari anggapanmu bahwa engkau meraih keutamaan yang Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam tidak dapat meraihnya? Sesungguhnya aku mendengar Allâh Ta'âla berfirman:
hadits
Maka hendaklah orang-orang yang
menyalahi perintah-nya (Rasul)
takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

(Qs an-Nûr/24:63)[14]

KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa agama Islam ini telah dinyatakan sempurna oleh Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya. Demikian juga diakui oleh para Sahabat Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam dan para Ulama setelah mereka. Maka, segala macam tambahan dan perkara baru di dalam agama ini adalah tertolak. Karena setelah jelas al-haq, semua yang bertentangan dengannya adalah kebatilan. Semoga Allâh Ta'âla selalu menganugerahkan kepada kita keikhlasan di dalam niat dan kebenaran dengan mengikuti Sunnah. Amin.

[1]Tafsir Al-Qur’ânil ‘Azhîm, karya Imam Ibnu Katsîr surat al-Mâidah ayat 3
[2]Hadits Shahîh dengan seluruh jalur riwayatnya. Riwayat Syâfi’i, al-Baihaqi, al-Khathib al-Baghdâdi, dan lainnya. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Silsilah ash-Shahîhah 4/416-417 dan Syaikh Ahmad Syâkir dalam Ta’lîqur-Risâlah, hlm. 93-103.
Dinukil dari Al-Bid’ah Wa Atsaruha As-Sayyi’ Fil Ummah, hlm 25
[3]Hadits Shahîh. Lihat penjelasannya di dalam Ar-Risâlah karya Imam Syâfi’i, hal 93 Ta’lîq Syaikh Ahmad Syâkir. Dinukil dari ‘Ilmu Ushûlil Bida’, hlm 19.
[4]Hadits Shahîh. Riwayat Ibnu Mâjah no. 43; Ahmad 4/126; dan Ibnu Abi ‘Ashim no. 48, 49.
[5]Kitab Al-I’tishâm, juz: 2, hal: 64, karya Imam Asy-Syâtibi
[6]Kitab Al-I’tishâm, juz: 1, hal: 111, karya Imam Asy-Syâtibi
[7]Al-Qaulul Mufîd, hal. 38
[8]Miftâhul Jannah, Lâ ilâha illallâh, hal. 58
[9]HR. Nasâi, no 3140; Lihat: Silsilah Ash-Shahîhah, no. 52; Ahkâmul Janâiz, hal. 63
[10]Hadits Shahîh Riwayat Ad-Dârimi di dalam Sunannya, juz 1, hlm. 68-69, no. 206; dan Bahsyal di dalam Târîkh Wasith, hlm. 198-199. Lihat: Al-Bid’ah, hlm. 43-44; Ilmu Ushûl Bida’, hlm. 92
[11]Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi, no. 2738; dll. Lihat Ilmu Ushûl Bida’, hlm. 71
[12]Riwayat Shahîh. Diriwayatkan oleh Darimi, juz 1, hlm. 116, no. 437, dll. Lihat Ilmu Ushul Bida’, hlm. 71
[13]Irwâul Ghalîl, juz. 2, hlm. 236
[14]Riwayat Al-Khathib di dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih, juz. 1, hlm. 148; dll. Lihat ‘Ilmu Ushul Bida’, hlm. 72

(Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII)

Rabu, 22 Agustus 2012

Al Quran sebagai penyembuh



Al-Quran Mengaktifkan Sistem Kekebalan Tubuh dan Mengurangi Ketegangan Saraf



Dalam sebuah risalah (makalah) ilmiah yang telah diuji di Amerika, disebutkan bahwa kajian-kajian yang terjadi pada konferensi medis yang diselenggarakan di Kairo baru-baru ini tentang cara mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk membebaskan diri dari penyakit kronis yang serius dan menahun, menetapkan bahwa orang yang mendengarkan Al-Qur’an (secara serius) nampak pada diri mereka perubahan-perubahan fungsional yang menunjukkan pengurangan tingkat ketegangan syaraf otomatis. Dan semua itu sudah dapat direkam atau dicatat dengan peralatan ilmiah yang terbaru dan paling akurat

Dr Ahmed al-Qadhi, ketua Direksi Institut Kedokteran Islam untuk Pendidikan dan Penelitian di Amerika dan salah seorang profesor jantung berkebangsaan Mesir yang memimpin penelitian tersebut di Amerika Serikat berkata:” Sesungguhnya 79% dari mereka yang dilakukan pada mereka penelitian-peneltian tersebut, dengan memperdengarkan kepada mereka kata-kata al-Quran, sama saja apakah mereka itu Muslim atau non-Muslim, sama saja apakah mereka tahu bahasa Arab atau tidak, nampak pada mereka hasil-hasil positif yang terwujudkan (ter- representasi-kan) pada penurunan tingkat ketegangan syaraf yang mereka derita.”

Dia (al-Qadhi) menambahkan:” Termasuk hal yang sudah diketahui bersama bahwa ketegangan (saraf) akan menguranri tingkat kekebalan dalam tubuh. Dan hal ini nampak melalui sekresi beberapa zat tertentu dalam tubuh atau terkadang munculnya reaksi antara saraf dan sistem endokrin, dan hal itu menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan fungsional tubuh bagian dalam. Oleh sebab itu maka efek al-Qur’an yang menengangkan (mengurangi ketegangan saraf) menyebabkan aktivasi fungsi-fungsi kekebalan tubuh untuk melawan penyakit dan menyembuhkakannnya.”

Dan Mahabenar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berfirman:

{ وَ نُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنينَ }،سورة الإسراء:82.

” Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ….”(QS. Al Isra’ : 82)

Dan ketika berfirman:
{… أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ }،سورة الرعد:28.

” ….Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dan ketika berfirman:

{… اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَ لِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ… }،سورة الأنفال:24.

”… (Hai orang-orang beriman) penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila (Rasul) mengajak kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian, ….”(QS. Al-Anfaal: 24)

Dan ketika berfirman:
{ وَ لَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَ كُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ }،سورة الحِجر:97 ـ 98.

” Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” (QS. Al-Hijr: 97-98)

Sumber: الكريم يُنشِّط الجهاز المناعي ويُخفِّف التوتُّر dari http://almenhaj.net/makal.php?linkid=10351.

Diterjemahkan oleh AbuYusuf Sujono

Senin, 20 Agustus 2012

ANTARA HABIB MUNZIR & ISLAM JAMA’AH

ANTARA HABIB MUNZIR & ISLAM JAMA’AH
(Pernyataan Habib Munzir : Fatwa Orang Tidak Bersanad Adalah Batil)

PENIPUAN TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA

Penipuan besar-besaran telah dilakukan oleh Nur Hasan Ubaidah (pendiri sekte Isalam Jama’ah) kepada umat Islam di Indonesia. Nur Hasan Ubaidah tiba-tiba datang di Indonesia dengan mengaku-ngaku membawa sanad mangkul hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyatakan bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan.

Ternyata… Nur Hasan Ubaidah ini mengaku-ngaku telah mengambil sanad dari kota Mekah negerinya kaum Wahabi. Jadi rupanya Nur Hasan Ubaidah ini mengambil sanad dari kaum wahabi !!???. Akan tetapi anehnya tidak seorangpun ulama di Kerajaan Arab Saudi yang berpemikiran ngawur seperti Nur Hasan Ubaidah ini.

Hingga sekarang Islam Jama’ah masih berusaha mengirim murid-muridnya ke Ma’had al-Harom di Mekah untuk berusaha menyambung sanad (karena konon isnad yang dibawa oleh Nur Hasan Ubaidah telah hilang atau kurang lengkap). Lagi-lagi Islam Jama’ah menguber-nguber sanad dari kaum Wahabi.

Berkembanglah pemikiran sesat sekte Islam Jama’ah ini di tanah air yang dibangun di atas kedustaaan besar-besaran dan penipuan besar-besaran terhadap kaum muslimin di Indonesia, bahwasanya siapa saja yang Islamnya tidak bersanad maka diragukan keabsahannya.

Anehnya… yang mau menerima doktrin Nur Hasan Ubaidah ini hanyalah sebagian masyarakat muslim Indonesia. Kalau seandainya doktrin dan propaganda Nur Hasan Ubaidah ini dilontarkan di Negara-negara Arab maka tentunya Nur Hasan Ubaidah ini akan dianggap sebagai badut pemain sirkus yang pintar melawak !!!!


MIRIP TAPI TAK SAMA !!

Habib Munzir Al-Musaawa…. dengan mudahnya mencela para ulama wahabi (seperti syaikh Bin Baaz, Ibnu Al-’Utsaimiin, dan Syaikh Al-Albani) dengan berhujjah : ULAMA WAHABI TIDAK BERSANAD !!!!

Sehingga murid-murid sang habib dan para pengagumnya menyerukan sebagaimana seruan sang Habib…: “Para ulama wahabi tidak bersanad !!!”, sehingga ilmu mereka diragukan…!!!, ilmu hadits mereka dangkal..!!!, Fatwa mereka batil dan tertolak…!!!

Dan tuduhan-tuduhan dan olok-olokan yang lainnya yang keluar dari mulut sang Habib beserta para pengagumnya.

Kalau dipikir-pikir pemikiran Habib Munzir agak mirip dengan doktrin Nur Hasan ‘Ubaidah pendiri sekte Islam Jama’ah, akan tetapi setelah direnungkan ternyata tidak sama.

Berikut saya sebutkan dua kesimpulan dari perkataan-perkataan Sang Habib tentang ulama yang tidak bersanad.

PERTAMA : Habib Munzir menuduh ulama wahabi tidak punya sanad. Bahkan dengan berani Habib Munzir menantang dan berkata :

“Saudaraku, maaf, tunjukkan satu saja seorang ulama wahabi yg punya sanad kepada Muhadditsin?, atau sanad guru yg muttashil kepada Rasulullah saw, kami ahlussunnah waljamaah berbicara hadits kami mempunyai sanad kepada kutubussittah dan muhadditsin, kami bukan menukil dan menggunting gunting ucapan ulama lalu berfatwa semaunya.
tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil.
(lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=9654#9654)

Bahkan Habib Munzir menuduh bahwasanya tidak ada satu orang wahabipun yang hafal 10 hadits beserta sanadnya.

“…Wahabi dan kelompoknya yg mereka itu tak hafal 10 hadits pun berikut sanad dan hukum matannya. hafal hadits berikut sanad dan matannya adalah hafal haditsnya, dan nama nama periwayatnya sampai ke Rasul saw berikut riwayat hidup mereka, guru mereka, akhlak mereka, kedudukan mereka yg ditetapkan para Muhadditsin, dan lainnya.

namun wahabi cuma menukil dari buku sisa sisa yg masih ada saat ini, buku buku hadits yg ada saat ini hanya mencapai sekitar 80 ribu hadits, dan tak ada kitab yg menjelaskan semua periwayat berikut sejarahnya kecuali sebagian kecil hadit saja,.

maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab, (lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=23856#23856)

KEDUA : Habib Munzir memvonis bahwa fatwa siapa saja yang tidak memiliki sanad adalah fatwa yang batil. Habib Munzir berkata, “tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil“, apalagi yang berfatwa adalah para wahabi maka fatwa mereka otomatis batil dan tidak perlu dijawab, sebagaimana dalam perkataan Habib Munzir, “maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab“

Karenanya begitu dengan mudahnya Habib Munzir membatilkan fatwa-fatwa Syaikh Utsaimin dengan hanya berdalih bahwa Syaikh Utsaimin tidak bersanad.

Habib Munzir berkata :

“Mengenai Utsaimin, ia bukan ulama hadits, ia tak mempunyai sanad dalam ilmu hadits, tidak mempunyai sanad kepada para muhadditsin, maka pendapatnya batil dan tak bisa dijadikan pegangan, mengenai hadits tsb” (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=25398#25398)

Demikian juga Habib Munzir menuduh Syaikh Albani tidak bersanad, dan dituduh hanya menipu umat sehingga umat hancur, dan dituduh sebagai tong kosong.

Habib Munzir berkata :

“Beliau (*Albani) itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukil dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini…”

Habib Munzir berkata lagi :

“Sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil. berkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’.

apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.

Saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong. (lihat :

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=22466#22466)

Inilah senjata Habib Munzir yang dianggap sangat ampuh dan sakti oleh para pengagumnya, sehingga untuk membantah para ulama wahabi tidak perlu adu argumen dalil, akan tetapi cukup dengan berkata “Para ulama wahabi tidak punya sanad maka fatwa mereka batil dan tertolak”

PERIHAL SANAD

Sebelum saya menyanggah penipuan Habib Munzir ini saya akan menjelaskan tentang hakekat sanad yang selalu dijadikan senjata oleh Habib Munzir untuk membatilkan perkataan para ulama wahabi.

Sanad/isnad merupakan kekhususan umat Islam. Al-Qur’an telah diriwayatkan kepada kita oleh para perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula telah sampai kepada kita hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang ada pada kaum Nashrani dan Yahudi tanpa sanad yang bersambung dan shahih, sehingga sangat diragukan keabsahan kedua kitab tersebut.

Isnad hadits adalah silsilah para perawi yang meriwayatkan matan (sabda) hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ahli hadits telah memberikan kriteria yang ketat agar suatu hadits dinilai sebagai hadits yang shahih, mereka ketat dalam menilai para perawi hadits tersebut. Karenanya mereka (para ahli hadits) mendefinisikan hadits shahih dengan definisi berikut :

مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ

“Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan penukilan perawi yang ‘adil dan dhoobith (kuat hafalannya) dari yang semisalnya hingga kepuncaknya tanpa adanya syadz dan penyakit (‘illah)”

Yaitu para perawinya dari bawah hingga ke atas seluruhnya harus tsiqoh dan memiliki kredibilitas hafalan yang sempurna (lihat Nuzhatun Nadzor hal 58), serta sanad tersebut harus bersambung dan tidak ada ‘illahnya (penyakit) yang bisa merusak keshahihan suatu hadits.

Oleh karenanya dari sini nampaklah urgensinya pengecekan kevalidan isnad suatu hadits

Ibnu Siiriin berkata :

لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ

“Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : “Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian“, maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid’ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka”

Perkataan Ibnu Siiriin rahimahullah ini dibawakan oleh Imam Muslim dalam muqoodimah shahihnya hal 15 di bawah sebuah bab yang berjudul :

بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ

“Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari’at yang mulia”.

Salah faham

Sebagian orang salah faham dengan perkataan Ibnul Mubaarok rahimahullah :

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka setiap orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa yang ia kehendaki”

Mereka memahami bahwasanya : “Perkataan Ibnul Mubarok ini menunjukkan bahwasanya orang yang tidak punya isnad bicaranya akan ngawur, dan sebaliknya orang yang punya isnad maka bicaranya pasti lurus”

Akan tetapi bukan demikian maksud perkataan Ibnul Mubaarok rahimahullah. Maksud perkataan beliau adalah : Tidak sembarang orang bisa menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi menyampaikan hadits Nabi harus ada sanadnya. Dan jika sudah ada sanadnya maka HARUS diperiksa para perawinya sehingga bisa ketahuan haditsnya shahih ataukah lemah. Yang menunjukkan akan hal ini tiga perkara berikut :

Pertama : Perkataan Ibnul Mubaarok ini dibawakan oleh Imam Muslim di bawah bab

بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ

“Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari’at yang mulia”.

Kedua : Persis sebelum menyampaikan perkataan ibnul Mubarok ini, Imam Muslim menyampaikan perkataan Sa’ad bin Ibrahim yang menjelaskan tentang kewajiban hanya meriwayatkan dari para perawi yang tsiqoh.

Imam Muslim berkata :

عن مسعر قال سمعت سعد بن إبراهيم يقول لا يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا الثقات وحدثني محمد بن عبد الله بن قهزاذ من أهل مرو قال سمعت عبدان بن عثمان يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Dari Mus’ir berkata : Saya mendengar Sa’d bin Ibraahim berkata : Tidaklah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali para perawi yang tsiqoh….dari ‘Abdaan bin ‘Utsmaan berkata : Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata : Isnad merupakan bagian dari agama, jika bukan karena isnad maka orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa saja yang ia kehendaki”

Dan sebelumnya lagi Imum Muslim juga menyebutkan perkatan Ibnu Siiriin di atas “Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian“

Ketiga : Setelah itu Imam Muslim juga membawakan praktek Ibnul Mubaarok yang mengecek para perawi dalam sebuah sanad.

Imam Muslim berkata :

قلت لعبد الله بن المبارك يا أبا عبد الرحمن الحديث الذي جاء إن من البر بعد البر أن تصلي لأبويك مع صلاتك وتصوم لهما مع صومك قال فقال عبد الله يا أبا إسحاق عمن هذا قال قلت له هذا من حديث شهاب بن خراش فقال ثقة عمن قال قلت عن الحجاج بن دينار قال ثقة عمن قال قلت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يا أبا إسحاق إن بين الحجاج بن دينار وبين النبي صلى الله عليه وسلم مفاوز تنقطع فيها أعناق المطي ولكن ليس في الصدقة اختلاف وقال محمد سمعت علي بن شقيق يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول على رؤوس الناس دعوا حديث عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف

“Abu Ishaaq bin ”Isa berkata : Aku berkata kepada Abdullah bin Al-Mubaarok, Wahai Abu Abdirrahman, hadits yang datang bahwasanya : ((Diantara berbakti setelah berbakti adalah engkau sholat untuk kedua orangtuamu beserta sholatmu dan engkau berpuasa untuk kedua orangtuamu bersama puasamu)). Beliau berkata : Wahai Abu Ishaaq, dari manakah hadits ini?. Aku berkata, “Ini dari periwayatan Syihaab bin Khiroosy”. Ibnul Mubaarok berkata : “Ia tsiqoh, lalu ia meriwayatkan dari siapa?”.

Aku berkata, “Dari Al-Hajjaaj bin Diinaar”. Beliau berkata : “Ia tsiqoh, lalu Hajjaj meriwayatkan dari siapa?”

Aku berkata, “(langsung) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”. Beliau berkata, “Wahai Abu Ishaaq antara Hajjaaj bin Diinaar dan Nabi ada padang pasir yang besar, butuh banyak onta untuk bisa menempuhnya. Akan tetapi tidak ada perbedaan pendapat tentang bersedekah (atas nama kedua orang tua)”…

Ali bin Syaqiiq berkata : “Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata di hadapan khalayak manusia : Tinggalkanlah periwayatan ‘Amr bin Tsaabit karena ia mencela para salaf” (Lihat Muqoddimah Shahih Muslim hal 16)

Dari sini kita faham bahwasanya perkataan Ibnul Mubaarok di atas semakin menguatkan akan urgensinya memeriksa kredibilitas para perawi dalam sebuah sanad. Dan perkataan Ibnul Mubaarok ini sama sekali tidak berkaitan dengan persangkaan Habib Munzir ; “Orang yang tidak bersanad maka fatwanya batil”

Praktek al-jarh wa at-ta’diil

Untuk menerapkan kriteria ini (yaitu pengecekan kedudukan dan kredibilitas para perawi hadits) maka para ulama ahli hadits menulis buku-buku al-jarh wa at-ta’diil yang menyebutkan tentang biografi para perawi, dengan menjelaskan kedudukan para perawi tersebut apakah tsiqoh ataukah dho’iif??.

Berbagai macam buku yang ditulis oleh para ulama,

- Ada kitab-kitab yang khusus berkaitan dengan para perawi yang tsiqoh

- Ada kitab-kitab yang khusus berkaitan dengan para perawi yang dho’if dan majruuh

- Ada kitab-kitab yang menggabungkan antara para perawi yang tsiqoh dan dho’iif

- Ada kitab-kitab yang berkaitan dengan para perawi yang menempati kota tertentu, seperti Taariikh Baghdaad, Taariikh Dimasq, Taariikh Waasith, dll

- Ada kitab-kitab yang menjelaskan tentang para perawi kitab-kitab hadits tertentu, seperti ada kitab yang khusus menjelaskan para perawi dalam kitab Muwaatho’ Imam Malik, ada kitab yang khusus menjelaskan tentang para perawi Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada kitab yang khusus menjelaskan tentang kedudukan para perawi al-kutub as-sittah

- Dan jenis-jenis kitab yang lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku al-jarh wa at-ta’diil atau ‘ilmu ar-rijaal.

Karenanya dengan meneliti kedudukan para perawi tersebut –berdasarkan kaidah al jarh wa at-ta’diil yang diletakkan oleh para ahli hadits- maka akan jelas apakan sanad suatu hadits shahih ataukah lemah atau maudhuu’ (palsu).

Alhamdulillah para ulama telah mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak kitab-kitab hadits sebagaimana yang masyhuur diantaranya : Muwatthho’ al-Imam Maalik, Musnad Al-Imam Ahmad, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Ibnu Hibbaan, Shahih ibnu Khuziamah, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Thirmidzi, Sunan An-Nasaai, Sunan Ibni Maajah, Mu’jam-mu’jam At-Thobrooni, Sunan Al-Baihaqi, dan kitab-kitab hadits yang laiinya. Yang seluruh penulis kitab-kitab tersebut meriwayatkan hadits dengan menyebutkan sanad mereka dari jalur mereka hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dengan penerapan kaidah ilmu mustholah al-hadits dan ilmu al-jarh wa at-t’adiil terhadap para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad hadits maka bisa dinilai apakah suatu hadits dari kitab-kitab tersebut shahih ataukah dhoiif.

Karenanya untuk mengecek keabsahan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab di atas adalah dengan mengecek para perawi yang termaktub dalam isnad-isnad dari para penulis kitab-kitab tersebut.

Sebagai contoh untuk mengecek shahih tidaknya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thirimidzi dalam kitab “sunan” beliau maka kita mengecek para perawi di atas Imam At-Thirimidzi (dalam hal ini adalah guru imam At-Thirmidzi) hingga keatas sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

SANAD ZAMAN SEKARANG ??

Di zaman kita sekarang ini masih banyak ahli hadits atau para syaikh atau para penuntut ilmu yang masih melestarikan kebiasaan para ahli hadits dalam meriwayatkan hadits dengan sanad. Sehingga banyak diantara mereka yang meriwayatkan hadits dengan beberapa model sanad hadits, diantaranya:

Pertama : sanad yang bersambung kepada salah satu dari para penulis hadits. Ada sanad di zaman sekarang ini yang bersambung hingga Al-Imam Al-Bukhari atau kepada At-Thirmidzi, atau kepada Abu Dawud, atau

Kedua : Sanad yang bertemu di guru-guru para penulis tersebut, atau bertemu di para perawi yang lebih di atasnya lagi (para guru dari para guru dari para penulis), atau

Ketiga : Sanad yang melalui jalur lain hingga kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melalui jalur para penulis kitab-kitab tersebut.

Dari sini jelas bahwasanya fungsi sanad di zaman ini (jika berkaitan dengan sanad hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka kurang bermanfaat dari dua sisi:

Pertama : Karena para perawi yang dibawah para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga perawi di zaman kita sekarang ini tidak bisa diperiksa kredibilitasnya karena biografi mereka tidak diperhatikan oleh para ulama dan tidak termaktub dalam kitab-kitab al-jarh wa at-ta’diil

Kedua : Kalaupun jika seluruh para perawi tersebut (dari zaman kita hingga ke penulis kitab) kita anggap tsiqoh maka kembali lagi kita harus mengecek para perawi dari zaman gurunya para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka seakan-akan kita ngecek langsung para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut.

Jadi keberadaan isnad dari zaman sekarang hingga nyambung ke para penulis kitab-kitab hadits tersebut kurang bermanfaat, itu kalau tidak mau dikatakan tidak ada faedahnya !!!

Adapun jenis isnad yang ketiga, yaitu periwayatan hadits yang diriwayatakan oleh seseorang di zaman sekarang hingga zaman Rasulullah –tanpa melalui jalur para penulis kitab-kitab hadits diatas- maka tentunya kita akan mendapatkan minimal sekitar 20 orang perawi. Dan 20 orang perawi tersebut tidak mungkin kita cek kredibilitas mereka karena tidak adanya kitab-kitab al-jarh wa at-tadiil yang menjelaskan biografi mereka.

Dari sebab-sebab inilah maka terlalu banyak para penuntut ilmu yang berpaling dari mencari sanad hadits-hadits Nabi di zaman sekarang ini karena tidak ada faedah besar yang bisa diperoleh. Namun meskipun demikian masih saja ada para penuntut ilmu dan para ulama yang masih melestarikan periwayatan hadits dengan sanad-sanad tersebut untuk melestarikan adatnya para ahli hadits. Akan tetapi sama sekali tujuan mereka bukan untuk dijadikan senjata sebagaimana senjata yang digunakan oleh Habib Munzir dan para pengagumnya.

PEMBODOHAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA

Habib Munzir sering menyebutkan kalau ia memiliki sanad, sehingga mengesankan bahwa ilmu yang dia peroleh nyambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal inilah yang dikenal dalam sekte Islam Jam’ah dengan istilah “MANGKUL“. Kemudian untuk mendukung aksinya ini maka Habib Munzir menuduh bahwa para ulama wahabi tidak seorangpun memiliki sanad…!!, bahkan tidak seorangpun yang hafal 10 hadits beserta sanadnya !!!. sungguh ini merupakan kedustaan dan pembodohan terhadap masyarakat Indonesia.

Jadilah pembodohan ini menjadikan para pengagum Habib Munzir memahami bahwasanya :

- Seluruh ilmu tanpa sanad tidak bisa diterima

- Orang yang memiliki sanad seakan-akan maksum (terjaga dari kesalahan) karena ilmunya mangkul, yaitu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun hal ini mungkin saja tidak terucap secara lisan, akan tetapi sikap mereka dan pembelaan mereka terhadap Habib Munzir menunjukan akan hal itu

- Orang yang memiliki sanad hingga ke Imam As-Syafii seakan-akan paling paham tentang perkataan Imam As-Syafii karena ilmunya mangkul/sampai kepada Imam Asy-Syafi’i.

SANGGAHAN

Sanggahan terhadap propaganda Habib Munzir ini dari banyak sisi

PERTAMA : Tuduhan Habib Munzir bahwa para ulama Wahabi tidak memiliki sanad merupakan tuduhan yang sangat dusta. Jangankan para ulama besar Wahabi, teman-teman saya (ustadz-ustadz yang ada di Indonesia) saja banyak yang memiliki sanad. Jadi jangan sampai Habib Munzir ini merasa ia adalah pendekar sanad satu-satunya, karena pendekar-pendekar junior wahabi ternyata sudah banyak yang memiliki sanad.


KEDUA : Terkhususkan tuduhan Habib Munzir terhadap As-Syaikh Albani bahwa beliau tidak memiliki sanad dan hanya seperti tong kosong yang menipu umat, maka ini merupakan tuduhan dusta dan sangat keji.

Syaikh Albani punya isnad, dan ini merupakan perkara yang ma’ruuf, beliau memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Thobbaakh Al-Halabi yang kepadanyalah beliau mempelajari ilmu hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. (silahkan lihat Hayaat Al-Albaani wa Aaatsaaruhu wa ats-Tsanaa’ al-’Ulamaa ‘alaihi karya Muhammad Ibrahim As-Syaibaani hal 45-46). As-Syaikh Al-Albani pun telah menegaskan hal ini dalam beberapa kitabnya seperti dalam kitab Tahdziir As-Saajid hal 84-85 dan juga kita Mukhtshor Al-’Uluw hal hal 74

Dan sebagian murid Syaikh Albani –seperti Abu Ishaaq Al-Huwaini- mengambil sanad dari As-Syaikh Al-Albani (silahkan lihat juga http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=18495).

Kemudian kenapa begitu berani Habib Munzir mensifati Syaikh Al-Albani dengan TONG KOSONG !!!, bahkan Habib Munzir mengkhawatirkan hancurnya umat karena tipuan Tong Kosong !!!, Subhaanallah…tipuan apa yang telah dilancarkan oleh Syaikh Al-Albani wahai Habib Munzir…!!! ataukah anda yang sedang melancarkan tipuan kepada umat bahwa yang tidak punya sanad fatwanya batil???

KETIGA : Kaum muslimin telah faham bahwasanya sumber hukum mereka adalah Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian juga ijmaa’ para ulama. Dan tatkala terjadi perselisihan maka Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Allah tidak pernah mengatakan “Kembalilah kalian kepada orang yang bersanad”

Alhamdulillah Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih telah dijaga oleh Allah.

KEEMPAT : Propaganda Habib Munzir ini sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para ulama dari madzhab manapun, baik dari madzhab Imam Abu Hanifah, atau madzhab Imam Malik, atau Madzhab Imam Ahmad, atau madzhab Dzohiriyah. Bahkan tidak seorangpun dari ulama madzhab Syafi’iyah yang mengigau dengan propaganda Habib Munzir ini.

Silahkan buka kitab fiqih dari madzhab manapun…, atau kitab aqidah dari madzhab manapun…, atau kitab hadits dari madzhab manapun…, atau kitab ushul al-fiqh dari madzhab manapun….tidak seorangpun dari para ulama pernah berkata : “Fatwa anda tertolak karena anda tidak bersanad !!”

Sering terjadi perdebatan dalam masalah fikih dikalangan para ulama madzhab…namun tidak seorangpun dari mereka tatkala membantah yang lain dengan berdalih “Pendapat anda batil karena anda tidak bersanad !!!”

Bahkan tatkala ulama ahlus sunnah berdebat dengan para ahlul bid’ah dalam masalah aqidah maka para ulama ahlus sunnah membantah dengan cara menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama sekali mereka tidak pernah berkata kepada Ahlul Bid’ah “Kalian di atas kebatilan karena tidak bersanad !!!”

Karenanya propaganda Habib Munzir ini merupakan hal yang sangat lucu dan konyol…tidak seorangpun yang pernah menelaah kitab-kitab para ulama akan terpedaya dengan propaganda ini. Yang terpedaya hanyalah orang awam yang tidak mengerti kitab-kitab para ulama, yang tidak mengerti tentang ilmu hadits dan ilmu sanad, sebagaimana Nur Hasan ‘Ubaidah berhasil menipu dan membodohi banyak orang-orang awam yang jahil sehingga terperangkap dalam jaringan sekte Islam Jama’ah. Wallahul Musta’aan.

KELIMA : Kalaupun kita menerima sanad yang dimiliki Habib Munzir maka kita harus mengecek para perawi yang terdapat dalam sanad tersebut, mulai dari Habib Munzir, gurunya, lalu guru dari guru Habib Munzir dst. Tentunya kita tidak akan mendapatkan perkataan para imam al-jarh wa at-ta’diil (seperti Syu’bah bin Hajjaaj, Al-Bukhari, Al-Imam Ahmad, Yahya bin Sa’iid, dll) tentang guru-guru Habib Munzir. Maka para perawi tersebut (guru-guru habib Munzir) dalam ilmu hadits dihukumi sebagai para perawi majhuul.

Demikian juga kita harus mengecek kredibiltas hafalan dan ketsiqohan Habib Munzir sebagai perawi dan salah satu mata rantai sanad yang ia miliki. Apakah Habib Munzir Al-Musawa adalah seorang perawi yang tsiqoh yang kredibilitas hafalannya baik dan tinggi, ataukah malah sebaliknya sering pelupa dan tidak memiliki hafalan?. Kemudian dinilai juga dari kejujuran dalam bertutur kata?. Karena jika kita menerapkan kaidah para ahli hadits, maka jika ketahuan seorang perawi pernah berdusta sekali saja –bukan pada hadits Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam- akan tetapi dusta pada perkara yang lain maka perawi ini dihukumi muttaham bil kadzib (tertuduh dusta), dan periwayatannya tertolak atau tidak diterima. Bagaimana lagi jika ketahuan sang perawi telah berdusta berkali-kali !!!, bagaimana lagi jika kedustaannya tersebut dalam rangka untuk menjatuhkan para ulama ??

KEENAM : Sebagaimana Habib Munzir memiliki sanad ternyata terlalu banyak para penuntut ilmu wahabi yang juga memiliki sanad…!!!, maka fatwa siapakah yang diterima?, apakah fatwa Habib Munzir ataukah fatwa para penuntut ilmu wahabi tersebut??!!

Hanya saja Habib Munzir mengesankan kepada murid-mudirnya bahwa para wahabi tidak bersanad !!!, ini merupakan kedustaan yang sangat nyata seperti terangnya matahari di siang bolong.

KETUJUH : Ngomong-ngomong manakah yang kita ikuti…Islam Jama’ah ala Nur Hasan ‘Ubaidah yang lebih dahulu punya sanad daripada Habib Munzir puluhan tahun yang lalu? Ataukah kita mengikuti Habib Munzir yang baru-baru saja memiliki sanad??!!.

KEDELAPAN : Bukankah sering dua orang yang sama-sama memiliki sanad ternyata saling berselisih??. Lihat saja bagaimana para ulama saling berselisih pemahaman dalam banyak permasalahan agama sehingga timbulah madzhab-madzhab yang berbeda-beda. Bukankah para ulama besar pengikut madzhab As-Syafii memiliki sanad akan tetapi sering berselisih dengan para ulama pengikut madzhab Hanafi yang juga memiliki sanad??

Bukankah Imam Ibnu Hazm yang bermadzhab Dzohiriah –yang beliau banyak meriwayatkan hadits dengan sanadnya dalam kitab beliau Al-Muhalla- ternyata banyak menyelisihi para ualama empat madzhab yang juga memiliki sanad?

Bahkan… bukankah Imam As-Syafii yang memiliki sanad yang pernah berguru kepada Imam Malik yang juga memiliki sanad ternyata masing-masing dari mereka berdua memiliki madzhab tersendiri??, demikian juga halnya antara Imam Ahmad yang berguru kepada Imam As-Syafii??

Dari sini jelas bahwa isnad tidak melazimkan satu pemahaman, bahkan orang yang memiliki satu isnad bisa berselisih faham, bahkan bisa jadi murid menyelisihi guru. Lantas bagaimana bisa dianalogikan jika Habib Munzir memiliki sanad lantas secara otomatis lebih faham tentang agama??!!

KESEMBILAN : Orang yang memiliki sanad yang shahih dalam periwayatan hadits tidak mesti lebih faham tentang agama daripada orang yang sama sekali tidak memiliki sanad, maka bagaimana lagi orang yang memiliki sanad yang dhoif karena banyak perawi yang majhuul??

Al-Imam Al-Bukhari telah membuat sebuah bab dengan judul :

بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : Betapa sering orang yang disampaikan lebih faham dari yang mendengarkan”.

Lalu Al-Imam Al-Bukhari membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مْنِهُ

“Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi yang hadir menyampaikan kepada orang yang lebih faham daripada dia” (HR Al-Bukhari no 67)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata :

وَالْمُرَادُ رُبَّ مُبَلَّغٍ عَنِّي أَوْعَى أَيْ أَفْهَمُ لِمَا أَقُوْلُ مِنْ سَامِعٍ مِنِّي

“Maksudnya yaitu bisa jadi orang yang disampaikan sabdaku lebih menguasai yaitu lebih faham tentang sabdaku dari pada yang mendengarkan (langsung) dariku” (Fathul Baari 1/158)

Rasulullah juga bersabda :

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

“Semoga Allah menerangi wajah seseorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu ia menghafalkannya hingga menyampaikannya. Bisa jadi seorang membawa fiqih (ilmu) lalu ia sampaikan kepada yang lebih faqih daripadanya, dan bisa jadi seseorang membawa fiqih (ilmu) akan tetapi ia bukanlah seorang yang faqih” (HR Abu Dawud no 3662, At-Thirmidzi no 2656, Ibnu Maajah no 230)

Hadits ini menjelaskan bahwasanya bisa jadi seseorang memiliki riwayat hadits akan tetapi tidak faham dengan isi dari hadits tersebut, serta tidak bisa mengambil dan mengeluarkan huku-hukum dari hadits tersebut.

Al-Munaawi As-Syafii berkata :

“Betapa banyak pembawa fiqih (ilmu) namun tidak faqiih, yaitu tidak mengambil (menggali) ilmu hukum-hukum dengan cara pendalilan, akan tetapi ia membawa riwayat tanpa memiliki sisi pendalilan dan pengeluaran hukum” (Faidul Qodiir 4/17)

Karenanya ilmu dan kefaqihan bukanlah dengan banyaknya riwayat dan banyaknya sanad, karena bisa jadi ada seseorang yang memiliki banyak riwayat dan sanad akan tetapi tidak faham atau kurang faham dengan isi dari hadits-hadits yang ia riwayatkan.

Ibnu Bathool rahimahullah berkata :

“Nabi ‘alaihis salaam sungguh telah menafikan ilmu dari orang yang tidak memiliki pemahaman, sebagaimana dalam sabda beliau “Betapa banyak orang yang membawa fiqih/ilmu akan tetapi tidak memiliki kefaqihan”

Imam Malik berkata : “Bukanlah ilmu dengan banyaknya periwayatan, akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah letakan dalam hati”. Maksud Imam Malik adalah memahami makna-maknanya dan istinbaathnya (pengambilan hukum darinya)” (Syarh Shahih Al-Bukhaari karya Ibnu Batthool 1/157)

Kesimpulan dari hadits ini :

Pertama : Bisa jadi seseorang memiliki riwayat atau sanad akan tetapi tidak faham dengan kandungan dari hadits yang ia riwayatkan.

Kedua : Bisa jadi seseorang memiliki riwayat dan sanad akan tetapi orang yang membaca hadits yang ia riwayatkan lebih faham dengan isi hadits daripada yang memiliki sanad.

KESEPULUH : Sungguh sangat menyedihkan jika kita dapati seseorang memiliki sanad akan tetapi tidak mengerti ilmu hadits….sanadnya itu hanya sebagai topeng yang melindungi kebodohannya dalam ilmu hadits, sehingga tatkala lisannya mulai berbicara tentang ilmu hadits akhirnya ngawur.

Apalagi murid-murid dan para pengagum Habib Munzir yang begitu mudahnya diberikan ijaazah oleh Habib Munzir. Silahkan perhatikan yang dibawah ini :

Pengagum Habib Munzir berkata :

“Dengan hormat saya hendak belajar kepada Habib walau sementara baru sebatas lewat internet.

1. Mohon izin belajar kepada Habib yang bersanad keguruan sampai kepada Nabi Muhammad SAW

2. Mohon ijazah untuk pengamalan amalan ahluh sunah wal jamaah…

Habib Munzir menjawab :

“Saudaraku yg kumuliakan, selamat datang di web para pecinta Rasul saw, kita bersaudara dalam kemuliaan

1. saudaraku tercinta, saya belum pantas menjadi murid yg baik, bagaimana saya menjadi guru, kita bersaudara dan saling menasihati karena Allah, namun sanad keguruan anda telah berpadu dg sanad keguruan saya hingga kepada Rasul saw.

2. Saya Ijazahkan pada anda sanad keguruan saya kepada anda, yg bersambung sanadnya kepada Guru Mulia kita, hingga Rasulullah saw, ia adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw, semoga Allah swt selalu menguatkan kita dalam keluhuran dunia dan akhirat bersama guru guru kita hingga Rasul saw.

Saya ijazahkan seluruh dzikir salafusshalih, semua doa Rijaalussanad dan semua doa dan dzikir dari seluruh para wali dan shalihin, munajat dan dzikir para Ahlusshiddiqiyyatul Kubra, kepada anda, Ijazah sempurna yg saya terima dari Guru Mulia kita Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin hafidh yg sanadnya muttashil (bersambung) pada segenap para ulama, muhaddits, para wali dan shalihin. Ijazah ini mencakup seluruh surat dalam Alqur’an, wirid, dzikir, amalan sunnah, dan doa Nabi Muhammad saw dan doa para Nabi dan Doa seluruh Ummat Muhammad saw, dan seluruh Hamba Allah yg shalih. semoga anda selalu dalam kemuliaan Dzikir dan Cahya Munajat mereka. Amiin

Saya Ijazahkan kepada anda sanad Alqur’anulkarim dalam tujuh Qira’ah, seluruh sanad hadits riwayat Imamussab’ah, seluruh sanad hadist riwayat Muhadditsin lainnya, seluruh fatwa dan kitab syariah dari empat Madzhab yaitu Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi, dan seluruh cabang ilmu islam, yg semua itu saya terima sanad ijazahnya dari Guru Mulia Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin Hafidh, yg bersambung sanadnya kepada guru guru dan Imam Imam pada Madzhab Syafii dan lainnya, dan berakhir pada Rasulullah saw…

(lihat: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=26683#26683),

Gampangnya Habib Munzir memberikan sanad ijazah kepada orang-orang awam tanpa persyaratan dan bahkan hanya sekedar melalui internet sering beliau lakukan.

Silahkan lihat : (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=25448#25448), lihat juga (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=22111#22111), lihat juga (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=21894#21894), dll

Perhatikanlah wahai para pembaca…dengan begitu mudahnya Habib Munzir memberi ijazah kepada seseorang yang meminta isnadnya hanya melalui internet ?!!

Lantas apakah jika orang tersebut telah diberi ijazah oleh Habib Munzir berarti ia telah menguasai seluruh qiro’ah sab’ah al-qur’aan dan juga menguasai seluruh fatwa dari empat madzhab, seluruh riwayat hadits dari imam saba’ah??!!! . Sementara orang yang meminta tersebut siapakah dia?, seorang alimkah dia?!! Belajar di mana?? Tahu nawhu shorof atau tidak?, menguasai ilmu ushul fiqh atau tidak?, menguasai ilmu mustolah hadits atau tidak?, menguasai fikih empat madzhab atau tidak??

Habib Munzir sendiri apakah menguasai seluruh ilmu yang ia ijazahkan?, menguasai tujuh qiroo’ah?, menguasai seluruh hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam sab’ah?, menguasai seluruh fatwa dan kitab-kitab syari’ah empat madzhab??!!! Sunnguh sangat a’lim Habib Munzir ini?, bahkan ana rasa mungkin tidak ada seorang yang lebih ‘alim dari Habib Munzir di zaman ini.

Pantas saja jika beliau digelari dengan al-’Allaamah al-Fahhaamah (silahkan lihat http://assajjad.wordpress.com/2009/03/05/biografi-habib-munzir-al-musawa/)

Bisa jadi seseorang tidak memiliki sanad akan tetapi ia adalah seorang yang ‘alim. Sebaliknya….

- Percuma punya banyak sanad jika masih saja meriwayatkan hadits-hadits yang lemah, apalagi tidak mengerti tentang ilmu takhriij.

- Percuma punya isnad sampai Imam As-Syafii tapi berdusta atas nama Imam As-Syafii dan juga berdusta atas nama Ibnu Hajar

- Percuma punya isnad kalau membolehkan kesyirikan beristighootsah kepada mayat

- Percuma punya banyak isnad kalau sering keliru dalam membicarakan ilmu hadits

- Percuma punya banyak isnad kalau tukang mencela para ulama, karena ini bukan akhlaknya orang yang mempunyai sanad.

- Percuma punya banyak isnad kalau menuduh para ulama sebagai pendusta tukang menggunting perkataan ulama (padahal dia sendiri yang tukang gunting)

- Percuma punya banyak isnad kalau menuduh para ulama wahabi tidak punya isnad (yang ini merupakan kedustaan yang sangat nyata..!!!!)

KESEBELAS : Tidak semua orang yang memiliki sanad dan meriwayatkan hadits maka otomatis aqidahnya merupakan aqidah yang lurus. Ini merupakan perkara yang sangat mendasar dan diketahui oleh semua orang yang baru belajar ilmu mustholah al-hadits.

Karenanya para ulama ahli al-jarh wa at-ta’diil menyebutkan (dalam kitab-kitab Ad-Du’afaa’ dan kitab-kitab yang secara spesifikasi membicarakan tentang para perawi yang lemah) bahwasanya banyak perawi hadits yang memiliki pemahaman bid’ah, baik bid’ah khawarij, bid’ah syi’ah, bid’ah irjaa’, bid’ah qodariyah dan lain-lain yang menyebabkan riwayat para perawi tersebut tertolak. Dan masih banyak sebab-sebab lain yang menyebabkan periwayatan seseorang yang memiliki sanad tertolak

Sementara kesan yang dibangun oleh Habib Munzir bahwasanya jika seseorang telah memiliki sanad yang bersambung kepada Nabi maka melazimkan seakan-akan ia adalah orang yang ma’sum yang tentunya aqidahnya lurus. Tentu hal ini merupakan kelaziman yang tidak lazim.

KEDUA BELAS : Kelaziman dari hal ini, maka seluruh dai dan ulama yang tidak bersanad tidak diterima perkataan dan fatwa mereka, dan fatwa mereka dihukumi sebagai fatwa yang batil. Saya rasa sebaiknya Habib Munzir memberi masukan kepada Majelis Ulama Indonesia yang selama ini tatkala berfatwa tidak mencantumkan sanad mereka !!! yang menunjukkan bahwa fatwa-fatwa mereka selama ini adalah fatwa yang batil.

Demikian juga masukan kepada ribuan dai yang di Indonesia, bahkan masukan kepada jutaan dai yang ada di dunia agar berhenti berdakwah dan hendaknya mencari sanad dahulu agar perkataan dan fatwa mereka bisa diterima dan tidak bernilai batil !!!

Dari dua belas sisi bantahan di atas maka jelas bahwasanya perkataan Habib Munzir : “Orang yang tidak bersanad fatwanya batil dan tertolak” adalah kesalahan yang fatal !!!

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 24-12-1432 H / 20 November2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

www.firanda.com

Kisah Seorang Yang Meninggalkan Rokok

Dikisahkan oleh Syaikh Dr. Muhammad al-‘Arifi

Aku pernah diundang di malam Ramadhan dua tahun yang lalu untuk menjadi pembicara dalam satu siaran live di salah satu siaran televisi. Siaran kala itu berkisar tentang ibadah pada bulan Ramadhan. Siaran itu dilakukan di Makkah al-Mukarramah pada satu kamar di salah satu hotel yang bisa melongok di atas Masjidil al-Haram.

Kala itu, kami berbicara tentang Ramadhan. Para pemirsa televisi bisa melihat dari sela-sela jendela kamar di belakang kami pemandangan orang-orang yang umrah dan thawaf secara langsung.
Kala itu pemandangannya sungguh mengagumkan dan mengharukan, membuat pembicaraan pun semakin berkesan. Hingga pembawa acara menjadi lembut hatinya, dan menangis di tengah halaqah itu. Sungguh suasana itu adalah suasana keimanan, dan tidak merusak suasana itu kecuali salah satu kameramen.

Dia memegang kamera dengan satu tangan, dan tangan yang kedua memegang “Tuhan Sembilan Senti” menurut istilah Penyair Taufik Ismail, yaitu rokok. Seakan-akan tidak ada satu waktu yang tersia-siakan dari malam bulan Ramadhan kecuali dia kenyangkan paru-parunya dengan asap rokok.

Hal ini banyak menggangguku. Penghisap rokok itu benar-benar mencekikku, tetapi harus bersabar, karena itu adalah siaran langsung, dan tidak ada alasan, kecuali terpaksa melaluinya. Berlalulah satu jam penuh, dan berakhirlah kajian itu dengan salam.

Kameramen itu pun mendatangiku –sementara rokok masih ada di tangannya- sembari dia mengucapkan terima kasih dan memuji. Maka kukeraskan genggaman tanganku dan kukatakan,

‘Anda juga, saya berterima kasih atas keikutsertaan Anda dalam menyuting acara keagamaan ini. Saya memiliki satu kalimat, barangkali Anda mau menerimanya.’

Dia pun menjawab,

‘Silahkan… silahkan.”

Kukatakan,

‘Rokok dan siga…” (maksudku sigaret),

namun dia memutus pembicaraanku seraya berkata,

‘Jangan menasihatiku… demi Allah, tidak ada faidahnya wahai syaikh.’

Kukatakan,

‘Baik, dengarkan saya… Anda tahu bahwa rokok haram, dan Allah berfirman…’

Dia pun memotong pembicaraanku sekali lagi,

‘Wahai Syaikh, janganlah menyia-nyiakan waktu Anda… saya telah merokok selama 40 tahun… rokok telah mengalir dalam urat nadi saya… tidak ada faidah… selain Anda lebih pandai lagi..!!

Kukatakan,

‘Apa yang ada faidahnya?’

Dia pun merasa tidak enak dariku lalu berkata,

‘Do’akanlah saya… do’akanlah saya.’

Maka akupun memegang tangannya seraya berkata, ‘Mari bersama saya..’
Kukatakan, ‘Mari kita melihat kepada Ka’bah.’

Maka kamipun berdiri di sisi jendela yang bisa melongok di atas al-Haram. Dan ternyata setiap jengkal dipenuhi dengan manusia. Antara yang ruku’, sujud, yang sedang umrah, dan sedang menangis. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan.

Kukatakan,

‘Apakah Anda melihat mereka?’

Dia menjawab,

‘Ya.’

Kukatakan,

‘Mereka datang dari setiap tempat, yang putih, yang hitam… orang Arab dan ‘ajam… yang kaya dan miskin… semuanya berdo’a kepada Allah agar menerima ibadah mereka dan mengampuni mereka…’

Dia menjawab,

‘Benar… benar…’
Kukatakan,

‘Tidakkah Anda menginginkan Allah memberikan kepada Anda apa yang Dia berikan kepada mereka?’

Dia menjawab,

‘Ya… tentu saja.’

Kukatakan,

‘Angkatlah tangan Anda, saya akan berdo’a untuk Anda…

dan aminilah do’a saya.’ Akupun mengangkat kedua tanganku lalu kukatakan, ‘Ya Allah, ampunilah dia…’

Dia berkata,

‘Aamiin.’

Aku berdo’a,

‘Ya Allah, angkatlah derajatnya, dan kumpulkanlah dia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya di dalam sorga… ya Allah…’

Dan tidak henti-hentinya aku berdo’a hingga hatinya lembut dan menangis… seraya mengulang-ulang, ‘Aamiin… aamiin…’

Tatkala aku ingin menutup do’a kukatakan,

‘Ya Allah, jika dia meninggalkan rokok, maka kabulkanlah do’a ini, jika tidak, maka haramkan dia atas terkabulnya do’a ini.’

Maka pecahlah tangisan laki-laki tersebut, sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tersebut.

Berbulan-bulan telah berlalu, akupun diundang lagi di studio televisi tersebut untuk melakukan siaran langsung.
Saat aku masuk ke bangunan tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak taat beragama menemuiku, kemudian dia mengucapkan salam dengan hangat, lalu mencium kepalaku, dan merendah meraih kedua tanganku untuk menciumnya, dan sungguh dia sangat terkesan.

Kukatakan kepadanya,

‘Mudah-mudahan Allah mensyukuri kelembutan dan adab Anda… saya sungguh menghargai kecintaan Anda… akan tetapi maaf, saya belum mengenal Anda…’

Maka dia berkata,

‘Apakah Anda masih ingat dengan kameramen yang telah Anda nasihati untuk meninggalkan rokok dua tahun yang lalu.’

Kujawab,

‘Ya…’

Dia berkata,

‘Sayalah dia… demi Allah wahai syaikh… sesungguhnya aku tidak pernah meletakkan rokok di mulutku sejak saat itu.’

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Selasa, 14 Agustus 2012

Online Business via Blog...

How to Be a Successful Blogger From Home



Bloggers can make use of other social media sites to gain readership.  
Blogging offers appealing opportunities for those looking to make money online. A top blogger can earn a six-figure salary without ever opening her front door. Websites have the potential to draw millions of readers each month, giving bloggers name recognition and notoriety. However, the road to becoming a successful blogger is rarely easy. Most bloggers struggle to obtain more than 50 hits per day, but with the right attitude, talents and persistence, anyone can be successful.

Instructions

    • 1
      Research the blogs in your area of interest. There are a vast number of topics to blog about: politics, money, food and entertainment, to name a few. Pick one that interests you. Invest some time reading the blogs that are already established to get a feel for the norms and topics that draw readership. Top blogs are successful because they have connected to and fulfill a need for readers. Try to determine what makes established blogs attractive and how you might incorporate their successes into your own.
    • 2
      Produce interesting content by finding a niche. Readers are attracted to blogs for a number of reasons, like finding entertainment, obtaining new information and engaging in social networking. Successful bloggers identify a need and desire that readers are craving and deliver fresh material consistently.
    • 3
      Publish content regularly. Once a visitor has read your latest post, he has no reason to come back until you have new content. If you want steady readership, you need to give readers a reason to follow your blog on a regular basis.
    • 4
      Leverage with other forms of social media to expand readership. Social sites like Facebook and Twitter allow bloggers to share their blog content in a way that quickly reaches a large number of potential readers. It will require a greater demand on your time, but it also helps your content traverse the internet.
    • 5
      Network with others who write blogs in your area of interest. According to research from the University of Michigan, 1 in 3 links in political blogs hyperlink to other political blogs. A hyperlink is a gateway that sends readers to other pages on the web. However, your blog will never be linked by other bloggers if they don't know about your site. Commenting on other blogs and emailing other bloggers is a great way to build contacts to help promote your site.
    • 6
      Publish content on more than just your own website. Electronic publications and other blogs will often accept submissions for publication. Publishing on other blogs and professional media websites helps build your credibility and exposure to your blog. It is also helpful to gauge the substance of your material. If you have what it takes to earn money blogging, your content should be good enough to publish on larger sites.

Iri Dan Dengki

Banyak orang tak bisa mengelakkan dirinya dari sifat iri dan dengki. Dengki kepada kawan yang baru
naik jabatan, dengki kepada tetangga yang punya mobil mewah, dengki kepada saudara yang
anaknya sarjana dan berpenghasilan tinggi dan lain sebagainya. Kedepan, abad globalisasi dan
keterbukaan semakin pula membuka 'kran hati' untuk saling mendengki. Karena ukuran globalisasi
identik dengan materi. Orang pun semakin tak bisa mengendalikan hati. Lebih lanjut kita uraikan
berikut ini.
Hakekat Dengki
Rasa dengki dan iri baru tumbuh manakala orang lain menerima nikmat. Biasanya jika seseorang
mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat
yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang daripadanya. Sikap inilah yang disebut
hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia
berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan ghibthah
(keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedang yang kedua diperbolehkan.
Sebagian Kisah Al Qur'an tentang Orang-orang yang Dengki
Dalam bahasa sarkasme, orang pendengki adalah orang yang senang melihat orang lain dilanda
bencana, dan itu disebut syamatah. Syamatah dengan hasad selalu berkait dan berkelindan. Dari
sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia
bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah menggambarkan sikap dengki ini dalam
firmanNya: "Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu
ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya." (Ali Imran : 120)
Dengki juga merupakan sikap orang-orang ahli Kitab. Allah berfirman: "Kebanyakan orang-orang ahli
Kitab menginginkan supaya mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu
beriman, disebabkan karena kedengkian (hasad) yang ada dalam jiwa mereka." (Al Baqarah : 109)
Kedengkian saudara-saudara Yusuf kepada dirinya mengakibatkan sebagian dari mereka ingin
menghabisi nyawa saudaranya sendiri, Yusuf 'Alaihis Salam. Allah mengisahkan dalam firmanNya:
"(Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih
dicintai ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat).
Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah ia ke
suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah
itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik." (Yusuf:8 - 9)
Terhadap orang-orang pendengki tersebut Allah dengan keras mencela: "Apakah mereka dengki
kepada manusia lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya?" (An Nisaa' : 54)
http://www.kajianislam.net 2011/8/14 4:29:53 / Page 1
Sebab-sebab Dengki
Rasa dengki pada dasarnya tidak timbul kecuali karena kecintaan kepada dunia. Dan dengki
biasanya banyak terjadi di antara orang-orang terdekat; antar keluarga, antarteman sejawat, antar
tetangga dan orang-orang yang berdekatan lainnya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling
berebut pada satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena
pada keduanya tidak ada ikatan sama sekali.
Adapun orang yang mencintai akhirat, yang mencintai untuk mengetahui Allah, malaikat-malaikat,
nabi-nabi dan kerajaanNya di langit maupun di bumi maka mereka tidak akan dengki kepada orang
yang mengetahui hal yang sama. Bahkan sebaliknya, mereka malah mencintai bahkan bergembira
terhadap orang-orang yang mengetahuiNya. Karena maksud mereka adalah mengetahui Allah dan
mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisiNya. Dan karena itu, tidak ada kedengkian di antara
mereka.
Kecintaan kepada dunia yang mengakibatkan dengki antar sesama disebabkan oleh banyak hal. Di
antaranya:
Sebab pertama adalah karena permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia
tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Diusahakanlah agar jangan
ada kebajikan pada orang tersebut. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit
karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antara orang yang sama
kedudukannya, tetapi juga bisa terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan
misalnya, selalu berusaha menggoyang kekuasaan atasannya.
Sebab kedua adalah ta'azzuz (merasa paling mulia). Ia keberatan bila ada orang lain melebihi
dirinya. Ia takut apabila koleganya mendapatkan kekuasaan, pengetahuan atau harta yang bisa
mengungguli dirinya.
Sebab ketiga, takabbur atau sombong. Ia memandang remeh orang lain dan karena itu ia ingin agar
dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut apabila orang lain memperoleh nikmat, berbalik dan tidak
mau tunduk kepadanya. Termasuk dalam sebab ini adalah kedengkian orang-orang kafir Quraisy
kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang seorang anak yatim tapi kemudian
dipilih Allah untuk menerima wahyuNya. Kedengkian mereka itu dilukiskan Allah dalam firmanNya:
"Dan mereka berkata: Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu
dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?" (Az Zukhruf : 31) Maksudnya, orang-orang kafir Quraisy itu tidak
keberatan mengikuti Muhammad, andai saja beliau itu keturunan orang besar, tidak dari anak yatim
atau orang biasa.
Sebab keempat, merasa ta'ajub dan heran terhadap kehebatan dirinya. Hal ini sebagaimana yang
biasa terjadi pada umat-umat terdahulu saat menerima dakwah dari rasul Allah. Mereka heran
manusia yang sama dengan dirinya, bahkan yang lebih rendah kedudukan sosialnya, lalu
menyandang pangkat kerasulan, karena itu mereka mendengki-nya dan berusaha menghilangkan
pangkat kenabian tersebut sehingga mereka berkata: "Adakah Allah mengutus manusia sebagai
rasul?" (Al-Mu'minun : 34). Allah menjawab keheranan mereka dengan firmanNya: "Dan apakah
kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan
perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu ?" (Al A'raaf :
63)
http://www.kajianislam.net 2011/8/14 4:29:53 / Page 2
Sebab kelima, takut mendapat saingan. Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka
ia khawatir kalau mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabullah apa yang ia inginkan.
Karena itu setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi. Bila tidak, dan
persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah. Dalam hal ini bisa kita
misalkan dengan apa yang terjadi antardua wanita yang memperebutkan seorang calon suami, atau
sebaliknya. Atau sesama murid di hadapan gurunya, seorang alim dengan alim lainnya untuk
mendapatkan pengikut yang lebih banyak dari lainnya, dan sebagainya.
Sebab keenam, ambisi memimpin (hubbur riyasah). Hubbur riyasah dengan hubbul jah (senang
pangkat/kedudukan) adalah saling berkaitan. Ia tidak menoleh kepada kelemahan dirinya,
seakan-akan dirinya tak ada tolok bandingnya. Jika ada orang di pojok dunia ingin menandingi-nya,
tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu mati
saja, atau paling tidak hilang pengaruhnya.
Sebab ketujuh, kikir dalam hal kebaikan terhadap sesama hamba Allah. Ia gembira jika
disampaikan khabar pada-nya bahwa si fulan tidak berhasil dalam usahanya. Sebaliknya ia merasa
sedih jika diberitakan, si fulan berhasil mencapai kesuksesan yang dicarinya. Orang sema-cam ini
senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan
simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh padanya, agar ia tidak jatuh pada orang lain.
Ia tidak saja kikir dengan hartanya sendiri, tetapi kikir dengan harta orang lain. Ia tidak rela Allah
memberi nikmat kepada orang lain. Dan inilah sebab kedengkian yang banyak terjadi.
Terapi Mengobati Dengki
Hasad atau dengki adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Dan hati tidak bisa diobati kecuali
dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang dengki yaitu hendaknya kita ketahui bahwa hasad itu sangat
membaha-yakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia. Dan bahwa kedengkian itu setitikpun
tidak membahayakan orang yang didengki, baik dalam hal agama atau dunia, bahkan ia malah
memetik manfaat darinya. Dan nikmat itu tidak akan hilang dari orang yang kita dengki hanya karena
kedengkian kita. Bahkan seandainya ada orang yang tidak beriman kepada hari Kebangkitan, tentu
lebih baik baginya meninggalkan sifat dengki daripada harus menanggung sakit hati yang
berkepan-jangan dengan tiada manfaat sama sekali, apatah lagi jika kemudian siksa akhirat yang
sangat pedih menanti?
Bahkan kemenangan itu ada pada orang yang didengki, baik untuk agama maupun dunia. Dalam hal
agama, orang itu teraniaya oleh Anda, apalagi jika kedengkian itu tercermin dalam kata-kata,
umpatan, penyebaran rahasia, kejelekan dan lain sebagainya. Dan balasan itu akan dijumpai di
akhirat. Adapun kemenang-annya di dunia adalah musuhmu bergembira karena kesedihan dan
kedengkianmu itu.
Adapun amal yang bermanfaat yaitu hendaknya kita melakukan apa yang merupakan lawan dari
kedengkian. Misalnya, jika dalam jiwa kita ada iri hati kepada seseorang, hendaknya kita berusaha
untuk memuji perbuatan baiknya, jika jiwa ingin sombong, hendaknya kita melawannya dengan
rendah hati, jika dalam hati kita terbetik keinginan menahan nikmat pada orang lain maka hendaknya
kita berdo'a agar nikmat itu ditambahkan. Dan hendaknya kita teladani perilaku orang-orang salaf
yang bila mendengar ada orang iri padanya, maka mereka segera memberi hadiah kepada orang
tersebut. Dan sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: "Saya
tidak pernah mendengki kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga,
maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga.
http://www.kajianislam.net 2011/8/14 4:29:53 / Page 3
Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia
sedang berjalan menuju ke Neraka." [alsofwah]